Dua puluh tahun yang lalu, aku bertunangan dengan saudara tiriku. Dia lebih dulu memilih jenderal, dan aku menikah dengan sarjana miskin. Hidup berkata lain: sang jenderal gugur dalam perang, sementara sarjana miskin itu justru menjadi perdana menteri. Tak disangka, aku kembali hidup dan terlempar ke hari pertunangan itu. Melihat dia tergesa memilih sarjana miskin, aku pun paham bahwa semuanya tidak akan berjalan biasa.