Dengan keyakinan penuh, si bocah malang itu mengorbankan ginjal dan rumahnya demi pacar yang katanya sakit. Tapi setelah tiga tahun berjuang, ia baru sadar bahwa semuanya hanyalah tipu daya. Rasa sakitnya berubah jadi keputusasaan, sedangkan si bajingan itu justru berlutut, menangis, dan memohon maaf.