Takdir mempertemukan Putri Agung dan Jenderal Besar dalam dua kehidupan. Dalam hidup sebelumnya, ia memaksa pernikahan yang tak diinginkan, dan keduanya melewati delapan tahun penuh kebencian. Saat kota jatuh, Jenderal Besar menggunakan nyawanya sendiri untuk melindunginya, dan Putri Agung turut mati di sisinya. Hanya menjelang kematian, ia mengetahui bahwa pengorbanan itu bukan lahir dari cinta, melainkan karena Jenderal Besar mengira ia adalah adik perempuannya. Ketika kesempatan hidup kembali membawanya ke masa sebelum pernikahan, Putri Agung memilih melihat cinta dengan cara yang berbeda dan tidak lagi memaksakannya.